Pendahuluan
Pendidikan adalah sebuah proses panjang yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, melainkan juga pada pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
Namun, dalam realitas sehari-hari di sekolah, terutama di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), muncul berbagai persoalan yang berkaitan dengan budi pekerti atau akhlak. Hal ini wajar, mengingat usia peserta didik berada dalam masa remaja, yaitu masa pencarian jati diri. Remaja sering kali mengalami kebingungan nilai, mudah terpengaruh lingkungan, serta cenderung mengikuti tren tanpa mempertimbangkan baik buruknya.
Di SMK TKM Pertambangan Kebumen, fenomena masalah budi pekerti juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagai guru, khususnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI), penting bagi kita untuk mengkaji masalah ini secara mendalam agar mampu memberikan solusi yang tepat.
Bentuk-Bentuk Masalah Budi Pekerti di SMK TKM Pertambangan Kebumen
- Kurangnya rasa hormat kepada guru dan sesama: terlihat dari sikap berbicara kasar, membantah, bahkan tidak menghargai teman.
- Disiplin yang rendah: terlambat datang, tidak mengerjakan tugas, melanggar tata tertib, hingga membolos.
- Pengaruh pergaulan negatif: penggunaan bahasa kasar, merokok, hingga terjerumus pada perilaku menyimpang.
- Kurangnya empati dan kepedulian sosial: peserta didik lebih individualis, sibuk dengan gawai, dan kurang peduli terhadap sesama.
- Penyalahgunaan media sosial: kecanduan game online, menyebarkan konten negatif, hingga cyberbullying.
- Menurunnya semangat ibadah: sebagian siswa malas salat, enggan mengikuti kegiatan rohani, dan menganggap ibadah sekadar formalitas.
Faktor Penyebab Masalah Budi Pekerti
Dari beberapa siswa yang bermasalah di SMK TKM Pertambangan Kebume 90% lebih faktor Penyebabnya adalah:
- Lingkungan keluarga: kurang perhatian, pola asuh yang longgar, minim keteladanan.
- Lingkungan sosial dan pergaulan: mudah terpengaruh teman sebaya.
- Media dan teknologi: akses bebas tanpa literasi digital yang memadai.
- Kurangnya keteladanan dari orang dewasa di sekitar.
- Krisis identitas remaja: masa pencarian jati diri tanpa panduan nilai yang kuat.
Solusi dan Upaya Perbaikan
- Keteladanan Guru: guru harus hadir sebagai contoh disiplin, santun, dan berintegritas.
- Pembiasaan Positif: salam, senyum, sapa, doa bersama, Jumat Berkah, Jumat Bersih, dan salat berjamaah.
- Penguatan Pendidikan Karakter melalui PAI: praktik nyata seperti salat, dzikir, kajian akhlak Nabi, serta kegiatan sosial.
- Kolaborasi dengan Orang Tua: komunikasi intensif, laporan perkembangan akhlak, serta bimbingan pola asuh.
- Pemanfaatan Ekstrakurikuler: pramuka, rohis, keputrian, olahraga, seni, sebagai sarana pembentukan karakter.
- Pengawasan Literasi Digital: edukasi etika bermedia sosial, karya digital kreatif.
- Reward dan Punishment Edukatif: penghargaan bagi yang berprestasi dan hukuman mendidik bagi yang melanggar.
Landasan Al-Qur’an dan Hadis
- Al-Qur’an Surat Luqman ayat 17: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” Ayat ini menekankan pentingnya ibadah, amar ma’ruf nahi munkar, dan kesabaran sebagai fondasi akhlak.
- Hadis Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad) Hadis ini menegaskan bahwa misi utama Rasulullah adalah membentuk akhlak yang baik, sehingga pendidikan di sekolah harus mengarahkan peserta didik menuju akhlak karimah.
Penutup
Masalah budi pekerti di sekolah, khususnya di SMK TKM Pertambangan Kebumen, merupakan realitas yang perlu ditangani bersama. Guru, orang tua, dan masyarakat harus bekerja sama membentuk lingkungan yang kondusif untuk pembinaan karakter. Budi pekerti tidak lahir dalam semalam, melainkan melalui proses pembiasaan, keteladanan, dan pembinaan yang berkesinambungan. Dengan kerja sama yang baik, peserta didik dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati dirinya sebagai generasi berakhlak mulia.